SEBERAPA SEHATKAH KAMU ? KENALI DIRIMU

Selasa, 23 Maret 2010

Gangguan Pendengaran Pada Anak

Lebih awal diketahui anak mengalami gangguan fungsi pendengaran, tindakan dini dapat segera dilakukan untuk membantu anak hidup normal didalam kegiatan sosialnya.
Gangguan fungsi pendengaran atau ketulian bisa terjadi sejak lahir yang biasa disebut dengan tuli kongenital bisa terjadi karena faktor perkembangan atau pertumbuhannya sejak anak lahir.
Tuli kongenital bisa terjadi karena faktor-faktor yang mempengaruhi kehamilan maupun pada saat lahir. Sedangkan faktor non kongenital yang sering terjadi adalah karena infeksi, trauma dan tumor intrakranial.

Tuli kongenital salah satu masalah pada anak yang akan berdampak pada perkembangan bicara, sosial, kognitif dan akademik. Jika tidak dilakukan deteksi dan intervensi secara dini masalah akan bertambah. Di Indonesia berdasarkan survei yang dilakukan oleh DepKes di 7 propinsi berkisar pada tahun 1994 – 1996, ditemukan penderita sebesar 0,1%. Tuli kongenital di Indonesia diperkirakan sebanyak 214.100 orang, bila jumlah penduduk sebesar 214.100.000 juta (profil kesehatan 2005). Jumlah ini akan bertambah per tahunnya dengan adanya pertambahan penduduk akibat tingginya angka kelahiran sebesar 0,22%.

Gangguan fungsi pendengaran (ketulian) ini dapat berupa tuli sebagian (hearing impaired) dengan derajat ringan, sedang dan berat atau tuli total (deaf or sensoryneural hearing loss/ SNHL).
Tuli sebagian adalah keadaan fungsi pendengaran berkurang namun masih dapat dimanfaatkan untuk berkomunikasi dengan atau tanpa bantuan alat dengar.
Tuli total adalah keadaan fungsi pendengaran yang sedemikian tergangguannya sehingga tidak dapat berkomunikasi meskipun mendapat alat bantu dengar atau pengerasan bunyi.


K L A S I F I K A S I
T u l I K O N G E N I T A L

Klasifikasi tuli kongenital dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Genetic herediter (faktor keturunan) baik yang disertai oleh sindrom (syndromic sensorineural hearing loss)
maupun yang tidak (non syndromic sensorineural hearing loss), dan
2. Non genetik.
Fungsi dari konsultan genetik pada kasus pencegahan terjadinya tuli herediter adalah menghindari perkawinan
antar keluarga/ sedarah yang mempunyai riwayat tuli pada garis keturunannya.


Faktor etiologi yang berperan terjadinya tuli kongenital

1. F a k t o r g e n e t i k
Diketahui ada riwayat keluarga yang menderita ketulian pada garis keturunan ikut meningkatkan risiko tuli congenital. Namun hal tersebut bukan persyaratan mutlak, karena beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa tuli kongenital tidak harus mengikuti hokum Mendell yang selalu diwariskan. Banyak tuli kongenital terjadi secara sporadic tanpa adanya riwayat keluarga dengan ketulian. Penelitian di bidang genetika menunjukkan bahwa banyak gen (multigena) yang berperan pada ketulian.

2. M a s a k e h a m i l a n (p r e n a t a l)
Kehamilan trimester I merupakan periode krusial, karena infeksi virus maupun bakteri akan berakibat terjadinya ketulian. Infeksi TORCHS (Taksoplasmosis, Rubella, Cytomegalovirus, Herpes, dan Sifilis), campak dan gondong. Riwayat pemberian beberapa jenis obat ototoksik dan teratogenik seperti salisat, kina, gentamycin, streptomisin, dan lain-lain, juga mempunyai potensi menyebabkan terjadinya gangguan proses pembentukan organ dan sel rambut pada rumah siput (koklea).

3. S a a t l a h i r (p e r i n a t a l)
Penyebab ketulian pada saat lahir antara lain lahir prematur, berat badan kurang 1500 gram, tindakan dengan alat pada saat proses kelahiran (ekstraksi vakum, forcep), dan bayi kuning (hiperbilirubinemia), bayi yang lahir tidak langsung menangis (asfiksia), dan hipoksia otak (nilai APGAR kurang dari 5 pada 5 menit pertama).
Tuli kongenital salah satu masalah pada anak yang berdampak pada perkembangan bicara, social, kognitif dan akademik. Penderita akan mengalami gangguan perkembangan komunikasi, bahasa dan prestasi sekolah, tidak mampu untuk bersosialisasi, berperilaku emosional, misalnya cepat marah, stress, yang pada akhirnya menjadikannya menjadi manusia yang berkualitas rendah dan kualitas kerja yang rendah pula.
Permasalahan yang muncul adalah kesulitan mendeteksi apakah bayi itu dalam keadaaan normal atau tuli. Biasanya orangtua baru menyadari adanya gangguan pendengaran pada anak jika tidak ada respon terhadap suara keras atau terlambat bicara. Penting bagi orangtua untuk tanggap terhadap perkembangan anak terutama respon terhadap stimulasi suara sekitarnya. Jika ada sedikit saja kelainan, misalnya pada respon terhadap suara, anatomi leher dan kepala, kemampuan berbicaran dan mengeluarkan suara, dan sebagainya, tidak adanya salahnya untuk memeriksakannya ke dokter.
Untuk mengetahui adanya gangguan pendengaran apabila tidak ada sarana yaitu dengan memberikan bunyi-bunyian pada jarak 1 meter di belakang anak.


D I A G N O S A
Diagnosa-diagnosa lebih lanjut juga bisa dilakukan di rumah sakit, seperti Otoacoustic Emission (OAE), Automated Audiometry Brainstem Response (AABR), dan yang tidak kalah pentingnya yaitu Behavioral Observation Audiometry.


P E N D A P A T A H L I

Menurut Am Joint Comitte of infant Hearing Statement (1994) insiden timbulnya ketulian terjadinya disebabkan antara lain oleh:
1. Terdapat riwayat keluarga yang tuli.
2. Adanya infeksi TORCHS (Toxoplasma Rubella Cytomegalo Herpes simplex Siphilis) terutama pada trisemester
pertama.
3. Berat badan lahir rendah <> 5 hari.
8. Terdapat sindrom yang berhubungan dengan tuli congenital.
9. Terdapat kelainan yang terdapat pada kepala leher.
10. Meningitis bakterialis (infeksi selaput otak).


K e s i m p u l a n
Semua kelainan di atas merupakan factor resiko terjadinya ketulian. Bila terdapat 1 faktor resiko maka kemungkinan timbulnya tuli sebesar 10 x, dan bila terdapat 3 faktor resiko maka kemungkinan timbulnya sebesar 63 x.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar